Senin, 24 Februari 2014

My Mon <3

Inilah yang selalu gue lakukan. Tiap gue sebel sama monster gue, gue inget-inget lagi gimana sabarnya dia ngadepin gue yang kebocahan banget ini, kebaikan-kebaikan dia ke gue, gimana dia nyoba jadi romantis ke gue, dan yang terpenting itu gimana beratnya waktu dulu buat bisa sama dia.

Ini gue gini lagi nih gara-gara dia... em entahlah. Yang jelas gue tadi sebel gara-gara sesuatu, terus koran gue dibales emot. Tambah sebel dong.

Tapi setelah khatam sebel gue terus nginget hal-hal di atas tadi, gue jadi jatuh cinta lagi sama dia (just like in the middle of that september :'3).

Ya walopun dia suka nyebelin, suka ngejekin, terus kalo ngritik itu blak-blakan banget (kadang bikin sakit hati wkwk). But there's no one I can love more than the real him.

Ps: I love you with your simplicity, your imperfections are even beautiful for me. Never change! X

Jumat, 21 Februari 2014

When I Look At You - Miley Cyrus (And my story behind that)

Sekarang gue lagi dengerin When I Look At You nya Miley Cyrus. Awal lagu, gue langsung inget bapak. Karena lagu ini kan soundtrack-nya The Last Song, dan kalian tau sendiri kan ceritanya gimana. Pas bapak masih ada aja, gue selalu nangis tiap liat film itu. Setelah bapak pergi, pas gue liat film itu kedua bola mata gue jadi gede-gede banget. Gue baru sekali liat film itu setelah bapak pergi, dan sekarang gue belum berani lagi liat film itu. Belum lagi tadi siang gue ngimpi keluarga jadi 5 lagi, kita duduk-duduk bareng ngobrol-ngobrol bareng (tapi gue lupa apa aja yang diobrolin) di rumah yang di Perum Tekad Makmur II, Sukoharjo. I'm seriously missing him :'D

And here's the lyric...

Everybody needs inspiration
Everybody needs a son
A beautiful melody
When the nights so long

Cause there's no guarantee
That this life is easy

Yeah when my world is falling apart
When there's no light to break up the dark
That's when I, I, I look at you
When the waves are flooding the shore
And I can't find my way home anymore
That's when I, I, I look at you

When I look at you
I see forgiveness
I see the truth
You love me for who I am
Like the stars hold the moon
Right there where they belong
And I know I'm not alone

Yeah when my world is falling apart
when there's no light to break up the dark
That's when I, I, I look at you
When the waves are flooding the shore
And I can't find my way home anymore
That's when I, I, I look at you

You appear just like a dream to me
Just like kaleidoscope colours that cover me
All I need, every breath that I breath
Don't you know you're beautiful

When the waves are flooding the shore
And I can't find my way home anymore
That's when I, I, I look at you
I look at you

You appear just like dream to me

Dan buat Moncrit, makasih udah bikin senyum, tertawa, dan kuat di waktu-waktu yang berat. Thanks for your ears, your understanding, your holds, your patience, and your supports. Thanks for covering me, thanks for being here, thanks for loving me, thanks for being my daddy's new eyes for me :') X

Jumat, 14 Februari 2014

Opin Oh Opin

Sekarang ini gue lagi liat dunia binatang di trans 7. Terus adek gue bilang pengen melihara burung, soalnya kalo dijual lagi harganya mahal. Nah, gue sendiri bilang pengen melihara kelinci. Kenapa? Karena kelinci enak kalo dipeluk :3 ekek

Ngomong-ngomong soal peliharaan, gue jadi inget kalo pas kelas empat SD dulu gue pernah beli ikan kecil seribuan di deket sekolah. Warnanya putih terus ada bercak-bercak hitamnya, gue sendiri gak tau itu ikan jenis apa (gak kepikiran buat nanya abangnya juga ._.). Itu ikan gue namain Opin. Kenapa Opin? Karena Opin itu versi imut dari 'dolphin', dan waktu itu gue kepengen banget melihara lumba-lumba. Berhubung gue sadar diri gak akan mungkin bisa melihara lumba-lumba, akhirnya ikan kecil seribuan itu gue kasih nama Opin. Gue naruh Opin di wadah aqua gelas yang diisiin air tawar (iyalah, masa diisi sirup).

Semenjak itu, gue sayaaaaaang banget sama Opin. Tiap di sekolah, gue selalu pengen pulang lebih cepet biar bisa ketemu Opin (lah alibi -_- wkwk). Gue sayang sama Opin, dan Opin juga sayang sama gue. Tiap gue sebel sama orang rumah atau temen-temen di sekolah, gue curhat sama Opin. Kalo gue keseeeelll, Opin selalu bisa jadi penghibur gue. Opin baiiiik banget.

Hingga suatu hari pas gue agak kaya, gue beli ikan cupang seharga dua ribu plus wadahnya seharga seribu (lo harus tau gue dulu doyaaaann banget jajan). Gue seneng karena ikannya cantik, warna-warni. Tapi gue tetep sayang sama Opin. Hingga akhirnya, ikan-ikan gue berjumlah 4 ekor. Awalnya gue seneng karena ikan gue lebih banyak dari ikannya adek gue. Tapi lama kelamaan gue mulai pusing ngurusin ikan-ikan ini. Akhirnya, gue sama Nanda (adek gue) iseng pengen membunuh salah satu ikan. Kita pun awalnya nguras wadah ikan-yang-gue-lupa-namanya, ikan itu kita taruh di wadah lain. Terus wadah yang kita kuras itu diisi deterjen, dan si ikan gue masukin ke situ. Gak terima dimasukin aja, gue juga ngocok-ngocok wadah itu. Alhasil, ikan itu mabok berat dan mati. Dan ikan itu gue kubur di kebon rumah, terus gue taburin sinom (daun asem yang masih muda).

Sumpah waktu itu gue labil banget XD
Semenjak itu, 3 ikan gue yang lain nyusul mati, termasuk Opin. Gue akhirnya gak punya ikan lagi. Semenjak itu, gue gak melihara ikan lagi. Waktu Nanda mamerin gue ikan baru, gue gak pengen.

Ekekek :D
Gue sekarang beneran pengen banget melihara kelinci, apalagi kelinci loop yang telinganya turun itu :3 tapi kemungkinan bisanya kecil banget, soalnya gue ngekos dan orang rumah gak sempet ngurus gituan. Dan gue sendiri sama temen sekamar gue (Nindya) lagi merintis bisnis tokek.

Hihihi :3
Bubye.

Selasa, 11 Februari 2014