Aku mencoba menulis ini berkali-kali. Tapi belum juga kutemukan kata yang tepat. Kata-kata yang akan mewakili perasaanku padamu. Berhari-hari aku menunggumu di koridor 6. Sekedar untuk melihat parasmu dan berkata hai. Tapi belum juga kutemukan keberanianku. Keberanian untuk jujur terhadap dirimu. Berpuluh-puluh surat telah kubuat, kulipat, dan duletakkan di amplop. Lalu hanya bersemayam di kotak kecil usang di kamarku. Sempat kubawa saat menunggumu di koridor 6. Namun hanya kuremas dan kumasukkan ke saku. Dan sesampainya di rumah, kembali kurapikan dan kusemayamkan bersama amplop-amplop lainnya dan perasaanku yang tetap terpendam.
Asa. Semangat. Itulah yang aku rasa saat melihatmu di pagi hari. Mengawali hariku dengan sempurna. membuatku ingin selalu pergi ke sekolah, bahkan di Hari Minggu. Walaupun aku tahu betul, melihatmu berlalu di depanku saja sudah membuat lidahku kelu. Apalagi melihatmu menyunggingkan senyuman manis ke arahku, sudah pasti membuat tubuhku beku secara otomatis.
Aku belum tahu sampai kapan aku akan begini. Mengagumimu dalam diam lalu menyisipkan hadiah-hadiah kecil ke lokermu. Mengharapkan kedatanganmu dengan cemas lalu bersembunyi di balik pintu saat kau berjalan mendekat. Merajut rasa cintaku tanpa tahu akan kuberikan atau tidak rajutan itu. Segalanya memang belum pasti. Hanya satu yang ku tahu, aku tetap menantimu di koridor 6 ini. Tulus. Tanpa jemu. Setiap hari.
180213.P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar